.......Tolong beritahu saya pak Ardi, begitu kata Charles , HR Executive Director korporasi itu, dengan lembut tapi dalam tatapan yang tajam kepada Ardi, MM 47 tahun , seorang calon chief accountant.
“Mengapa kami mesti membayar Anda seharga 30 juta perbulan. Apa yang Anda miliki, sehingga kami harus membayar seharga itu? Perlu Anda ketahui pak Ardi, Lanjut HR Director itu, karena pada saat yang bersamaan , juga ada calon lain, Willy, 28 tahun, yang memiliki kualifikasi yang sama , dan bersedia untuk menerima gaji Rp. 10 juta, dan saya perlu sebuah alasan yang valid untuk menerima Anda dengan reward seperti itu, kalau tidak bagaimana saya bisa mempertanggungjawabkan keputusan saya pada pemegang saham dan dewan direksi perseroan?
Pak Ardi terperangah, ia tidak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan yang lembut tapi membuatnya kehilangan akal menjawabnya. Ia mulai tegang dan kebingungan idea untuk memuaskan rasa ingin tahu pemilik pertanyaan sederhana itu. Dan degup jantung nya mulai berdebar, ia justru kehilangan sumber inspirasi yang amat ia butuhkan saat ini. Tetes keringatnya mulai mengalir kecil tanpa di undang. Maklum saja, sebuah kegagalan menjawab pertanyaan ini secara memuaskan bisa berakibat fatal terhadap tumpuan baru yang sedang diburunya. Padahal, ia bukan pria sembarangan, pria berdasi setengah baya 47 tahun pemegang gelar MM dan Drs ini punya pengalaman malang melintang sebagai profesional executives di dunia akutansi. Ia sebelumnya adalah chief accountant sebuah perseroan batu bara milik perseroan Australia yang telah tidak beroperasi lagi di Indonesia. Dan pak Ardi sedang dalam masa transisi mencari pekerjaan baru. Sebagai seorang profesional, Ardi masuk ruang meeting itu dengan percaya diri, dan tersenyum untuk diinterview oleh Pak Charles, human resource director perseroan besar itu. Apa saja arus pertanyaan lain yang membuat Ardi kehilangan rasa percaya diri itu?
Pak Ardi, diam sejenak.
Ia memutar otak untuk memikirkan jawaban yang tepat. Kemudian ia berucap:
“ Saya punya 20 tahun pengalaman pak sebagai accountant” begitu sanggah Ardi, sedangkan Willy baru 5 tahun pak sebagai chief Accountant, lanjutnya
Benar, kata pak Charles sambil mengangguk. itu sih saya tahu.
Sekarang tolong bantu saya , lanjutnya “bagaimana Anda bisa memberi tahu saya, kalau 20 tahun pengalaman itu sebenarnya bukanlah pengalaman 5 tahunan yang sama, yang dilakukan berulang ulang selama 4 periode, sehingga kemampuan kompetensi dan pengalaman profesional Anda bisa secara unik bisa saya katakan berbeda dengan calon Willy ? supaya saya bisa menjustifikasi reward terhadap Anda yang tiga kali lipat?
Tensi darah Pak Ardi mulai beranjak naik, ia tidak bisa menemukan dengan jitu mengapa ia harus dibayar extra dibanding dengan orang lain dengan kompetensi yang sama. Ia juga bingung bagaimana menjelaskan kalau lamanya perjalanan sebuah pengalaman bukanlah sekedar pengulangan dari pengalaman pembukuan yang sama dan dilakukan berulang- ulang.
Dan karena Pak Ardi bahkan bingung dan kelihatan tak sanggup menjelaskan pada dirinya sendiri secara menyakinkan; mengapa ia harus berharga lebih mahal, tentu Anda juga tidak heran melihat konsekwensi bahwa sebagai HR director, Pak Charles tidak punya ‘bahan atau case “ untuk diperjuangkan dalam pengambilan keputusan terakhir. Kenyamanan kerja selama ini membuat Ardi lupa bertanya pada diri sendiri, apakah ia setiap waktu membangun kompetensi dan cara pandang yang baru dan berbeda, atau tenggelam dalam lautan pekerjaan yang sama, yang setiap hari diisi dengan akitfitas yang penting dan genting. Dua pekan kemudian pak Ardi mendapat surat formalitas yang santun....... tapi isinya hanya menyampaikan bahwa ia akan dijadikan referensi masa depan kalau perseroan membutuhkannya lagi. Sebuah klise penolakan yang dimaklumi awam.